Responsive image
Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara | Mohon maaf, website masih dalam tahap pengembangan | Better Information - Better Decision - Better Health

LIPUTAN KHUSUS PROGRAM UNGGULAN : KOLABORASI GNS GESIT PUSKESMAS SEBULU II

Rabu, 7 Juni 2017

Gesit Untuk Optimalkan Peran Kader Kesehatan Dalam Menjaring, Mengenali Dini dan  Identifikasi Persoalan Keluarga Terhadap Rujukan Bulin, Buhir  Dan Bufas Resti” Muhamad Kapus Sebulu II.

 

SEBULU : Setelah meluncurkan program Gerakan Nikah Sehat  (GNS)  dan Jurnal Resti sejak dua tahun yang lalu, Puskesma Sebulu II mengembangkan Program Unggulan  lain untuk memaksimalkan upaya menurunkan kematian ibu. Program tersebut adalah GESIT yaitu Gerakan Selamatkan Ibu Risiko Tinggi. “Program Gesit merupakan upaya optimasi GNS dan Jurnal Risti,  yang artinya Gerakan Selamatkan Ibu Resiko Tinggi, setelah pasangan pengantin tersebut masukdalam proses kehamilan, melahirkan atau masa nifas maka harus dilakukan pemantauan atau deteksi dini terhadap faktor resti sehingga dapat dilakukan percepatan penanganan bila ditemukan gejala resiko tinggi tersebut. Untuk mengoptimalkan proses diatas, kami melibatkan peran Kader Kesehatan, Ketua RT, Kepala Desa dan Camat” Ujar Muhamad Kapus Sebulu II saat ditemui dikantornya kamis pagi (6/6).

 

 

Lanjut Muhamad, Terkait program Gesit, Peran kader kesehatan melakukan pemantauan dan identifikasi awal bumil dan bufas yang kemungkinan mengalami resiko, termasuk identifikasi persoalan keyakinan, budaya, ekonomi dan lainnya dalam keluarga yang dapat menghambat proses rujukan bumil dan bufas nantinya. “Namun sebelum mereka melakukan pemantauan, maka kader dilatih lebih dahulu mengenal secara gejala awal dari resiko tinggi tersebut” Terang Muhammad.

 

 

Proses selanjutnya, hasil pemantauan kader terhadap ibu resti tersebut dilaporkan kepada Puskesmas dan Ketua RT setempat. Puskesmas menindaklanjuti dengan melakukan kunjungan rumah dan penanganan kesehatan sedangkan Ketua RT berkoordinasi dengan Kepala Desa dan pihak Kecamatan untuk menangani permasalahan budaya, tradisi dan keyakinan keluarga yang dapat menghambat proses rujukan bila diperlukan.

 

 

Kematian ibu melahirkan yang pernah terjadi wilayah Puskesmas Sebulu II. Salah satunya disebabkan pihak keluarga tidak menyetujui ibu resioko tinggi tersebut dirujuk ke rumah sakit. Hal ini kemungkinan karena faktor ketidakpahaman keluarga atau keterbatasan biaya dari mereka. “Untuk itu peran kader sangatlah penting, dalam menggali persoalan tersebut pada keluarga dengan ibu resiko tinggi, yang nantinya diharapkan bila permasalahan muncul kembali maka kader sudah menyampaikan informasi ke Ketua RT, Kepala Desa dan Camat untuk dapat membantu permasalahan keluarga tersebut sehingga proses rujukan dapat lebih mudah dilakukan” Kata Muhamad.

 

 

“Dengan Gerakan Selamatkan Ibu Resiko Tinggi atau Gesit, diharapkan menjadi penguat Gerakan Nikah Sehat dan Jurnal Resti yang mampu mengidentifikasi  bukan saja persoalan medis namun juga persoalan sosial budaya, ekonomi dan keyakinan keluarga tetntang ibu resti, kemudian berdampak pada lancarnya proses rujukan dan pencegahan kematian ibu tersebut” Pungkasnya.

Simpan sebagai :

Berita terkait :

   KATEGORI       

Link Aplikasi

Link Terkait

STATISTIK

Online: 90
Hari ini: 28
Total: 5627