Responsive image
Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara | Mohon maaf, website masih dalam tahap pengembangan | Better Information - Better Decision - Better Health

DINKES KUKAR HADIRI SEMINAR INTERNASIONAL SDG Milad Ke-22 Stikes Muhamadiyah Samarinda

Senin, 3 April 2017

Samarinda : Demi menjawab peran kalangan lembaga pendidikan tinggi dan praktisi kesehatan terhadap pelaksanaan SDG’s yang dimulai sejak Tahun 2016, Stikes Muhamadiyah Samarinda menyelenggarakan Seminar Internasional tentang Sustainible Development Goals (SDG’s) atau lebih dikenal dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dengan menghadirkan pembicara dari Perguruan Tinggi Negara Thailand dan Malaysia serta dari Universitas Indonesia. Kegiatan tersebut dihadiri oleh  mahasiswa dan dosen perguruan tinggi di Kaltim, para praktisi kesehatan dari lembaga pemerintah dan praktisi kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta termasuk Dinkes Kukar. Hal ini disampaikan oleh pihak panitia pada saat acara pembukaan di Gedung Serbaguna Lt 4 Stikes samarinda Kamis(30/3).

Prof. Umar Fahmi salah satu pembicara Public Health dari Universitas Indonesia mengatakan “Kita telah belajar banyak dari Millenium Development Goals (MDGs). Lebih dari 15 tahun terakhir, delapan tujuan dan 60 target MDGs telah melahirkan perbaikan yang signifikan dalam pembangunan di tingkat nasional, regional dan global. Namun masih banyak tujuan dari pembangunan tersebut yang belum tercapai khususnya pada kematian ibu dan kematian bayi.

Fahmi sebagai guru besar UI menambahkan bahwa Kesepakatan Millenium Development Goals (MDGs) Sejak tahun 2015 ditetapkan berakhir.Dan, negara-negara di dunia pun mulai merumuskan sebuah platform berkelanjutan untuk dapat mencapai cita-cita mulia dari MDGs tersebut. Untuk itu, pada tanggal 25-27 September 2015 terjadi pertemuan akbar di Markas PBB di New York, dengan dihadiri perwakilan dari 193 negara. Pertemuan Sustainable Development Summit ini berhasil mengesahkan dokumen yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs).

 

Indonesia bersama dengan negara-negara lain di dunia hanya memiliki waktu selama 15 tahun sejak tahun 2015 untuk bisa mencapai manifesto SDGs. Artinya, Indonesia membutuhkan tiga (tiga) kali pemilihan presiden (pilpres) untuk dapat mewujudkannya. Agenda yang disahkan oleh PBB di New York ini memiliki 17 tujuan yang terbagi menjadi 169 target untuk menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Adapun  17 poin penting di dalam SDGs, yakni terciptanya dunia dengan:

  1. tanpa kemiskinan;
  2. tanpa kelaparan;
  3. kesehatan yang baik dan kesejahteraan;
  4. pendidikan berkualitas;
  5. kesetaraan gender;
  6. air bersih dan sanitasi;
  7. energi bersih dan terjangkau;
  8. pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan yang layak;
  9. industri, inovasi, dan infrastruktur;
  10. pengurangan kesenjangan;
  11. keberlanjutan kota dan komunitas;
  12. konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab;
  13. aksi terhadap iklim;
  14. kehidupan bawah laut;
  15. kehidupan di darat;
  16. institusi peradilan yang kuat dan kedamaian; dan
  17. kemitraan untuk mencapai tujuan.

 

Ia mengatakan untuk mewujudkan hal diatas beberapa pemikiran utamanya adalah hendaknya pembangunan saat ini harus memikirkan kehidupan masyarakat masa datang seperi pada permasalahan pemakaian  herbisida atau pestisida oleh petani ternyata berdampak pada masyarakat yang mengkonsumsinya.

Pendekatan untuk mengatasi permasalahan kesehatan harus beroriantasi pada Local Specific problem Solving, ia mencontohkan mengatasi masalah penyakit malaria untuk dari Bangka Belitung akan berbeda kondisinya dengan daerah maluku. Hal ini diperlukan penanganan dan pencegahan sesuai kondisi setempat.

Pada akhir sesi ia menyimpulkan kunci penting dalam pelaksanaan keberhasilan SDG’s adalah Harmonisasi negara-negara yang berkomitmen akan SDG’s, Global Commitmen yang harus dilanjutkan dengan Komitmen Kabupaten/Kota dan Interrelasi, Sinkronisasi serta harmonisasi lintas program khususnya di Indonesia.

 

Sementara itu pembicara dari Malaysia Prof. Bibi dan Thailand Prof. Pactruhng menjelaskan sejak dijalankannya program MDG’s yang berakhir tahun 2015 yang lalu, punya dampak yang lebih baik dengan ditunjukkan kematian ibu dan bayi menurun serta beberapa kasus penyakit menular bisa teratasi. Kondisi tersebut berbeda dengan di Indonesia seperti yang dijelaskan oleh Prof. Umar. Hal ini dikarenakan secara geografis,  demografis dan PDB ada perbedaan yang sangat mendasar antara tiga negara tersebut. (waa) 

Simpan sebagai :

Berita terkait :