Responsive image
Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara | Mohon maaf, website masih dalam tahap pengembangan | Better Information - Better Decision - Better Health

GERAKAN NIKAH SEHAT MASUK NOMINASI LAGA GENERASI II KUKAR

Jumat, 2 Maret 2018

“Inovasinya Adalah Kalau Dahulu Proses Pernikahan Dari Kantor Desa Langsung Ke KUA, Namun Sekarang Proses Pernikahan Melalui Integrasi Pelayanan Dari RT, Imam Kampung, Kantor Desa, Puskesmas, KUA, Gereja Dan Pengurus Agama Lainnya” Kadinkes Kukar

 

KUKAR :  Program Gerakan Nikah Sehat yang gerakannya diawali dari Kecamatan Sebulu II sejak tahun 2015 yang lalu sudah dikembangkan dan dijalankan di beberapa Puskesmas yang lain di Kukar. Dampak dari penerapakan gerakan ini, sangat membantu puskesmas dalam mengidentifikasi calon ibu hamil, mendata Bumil yang baru serta membantu penguatan identifikasi Bumil Resti dan percepatan penanganannya. Hal inilah yang melatarbelakangi Gerakan Nikah Sehat (GNS) diikutkan dalam Gelar Manajemen Perubahan dan Inovasi Ke-2 (GENERASI II) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara di Gedung Putri Karang Melenu tenggarong Seberang beberapa waktu yang lalu.

Tim Reformasi Birokrasi Kabupaten Kutai Kartanegara yang diketuai oleh Sekretaris Kabupaten menetapkan Motto Gerakan RB Kukar adalah “Bebaya Etam Kuatkan Kinerja ASN”. Dalam sambutan Tim RB yang disampaikan oleh  Supriyanto mengatakan bahwa  Sampai saat ini perjalanan Reformasi Birokrasi sudah menjadi perhatian serius dengan dibentuknya Tim Bekias atau Tim Manajmen Perubahan pada masing-masing OPD. Puncaknya adalah dilakukan Gelar Manajemen dan Inovasi (GENERASI) Ke-2 oleh Tim RB dengan mengundang Tim Bekias dari 14 OPD. “Pada laga GENERASI tahun Ke-2 ini, akan tampil program-program unggulan dari empat belas  OPD di kabupaten Kutai Kartanegara, yang diharapkan salah satunya menjadi nominasi untuk mengikuti SINOVIK Tahun 2018 tingkat nasional” Ujarnya .

Dalam laga gelar inovasi ini, Dinas Kesehatan merupakan salah satu dari 14 OPD yang menampilkan program unggulan Gerakan Nikah Sehat atau GNS.  Dalam paparannya Koentijo Kadinkes Kukar menjelaskan bahwa kontribusi tertinggi kematian ibu dan bayi di Propinsi Kalimantan Timur ada di Kutai Kartanegara. Jumlah Kematian ibu melahirkan ini tercatat sejak tahun 2012 sampai sekarang masih menjadi nomor satu di propinsi ini. Pada dasarnya sudah banyak sekali aplikasi sistem informasi yang menunjang upaya penurunan kematian tersebut, namun upaya ini masih belum membuahkan hasil yang positif.

Menyikapi kondisi dan permasalahan serta upaya untuk mengatasi maka pihaknya mulai memfokuskan pada penguatan upaya proses. Ia mengumpulkan semua Puskesmas untuk meminta masukan terkait dengan upaya penanggulangan masalah tersebut. Menanggapi hal ini, muncul ide inovatif mengembangkan GERAKAN NIKAH SEHAT melalui kerja sama lintas sektor untuk melakukan pelayanan terintegrasi dimana setiap calon pengantin diberikan pelayanan konseling serta pelayanan kesehatan secara menyeluruh,.  “Dengan diketahuinya data calon pengantin, maka Puskesmas bisa mendapatkan data calon ibu hamil untuk dilakukan pemantauan serta pelayanan kesehatannya secara berkelanjutan termasuk proses persalinan yang kita inginkan, tidak ada kematian ibu dan kematian bayi” Ujar Koentijo.

Lebih lanjut Koentijo mengatakan bahwa mulai tahun 2015 Gerakan Nikah Sehat ini digulirkan pertama kali Puskesmas wilayah Kecamatan Sebulu dan terus dikembangkan di Puskesmas lainnya di Kutai Kartanegara. 

Namun yang lebih penting bagaimana keberlanjuitan dari inovasi ini ?. Ia menjelaskan bahwa pihaknya melakukan kerjasama dengan stake holder di “akar rumput” yaitu Ketua RT, Kepala Desa sampai kecamatan serta sektor lainnya dan dilanjutkan dengan upaya memahamkan calon ibu hamil dan keluarganya. “Setiap calon pengantin pasti menginginkan kehamilan, namun bagaimana memberikan pemahaman bahwa kehamilan itu merupakan tanggung jawab ibu bersama keluarga” Tegasnya.

“Inovasinya adalah kalau dahulu proses pernikahan dari kantor desa langsung ke KUA, namun sekarang proses pernikahan melalui integrasi pelayanan dari RT, Imam kampung, kantor desa, Puskesmas, KUA, gereja dan pengurus agama lainnya. Di Puskesmas setiap calon pengantin mendapatkan pelayanan yang menyeluruh mulai konseling sampai pelayanan kesehatan” Pungkasnya.

Simpan sebagai :

Berita terkait :

   KATEGORI       

Link Aplikasi

Link Terkait

STATISTIK

Online: 16
Hari ini: 21
Total: 10984