Responsive image
Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara | Mohon maaf, website masih dalam tahap pengembangan | Better Information - Better Decision - Better Health

INOVASI PUSKESMAS SEBULU II GERAKAN NIKAH SEHAT, JURNAL RESTI DAN KLINIK REMAJA (bagian 1)

Kamis, 28 April 2016

KUKAR : “Dengan Beberapa Program Unggulan Puskesmas Berprestasi Sebulu II, Siap Hadapi Penilaian Tingkat Propinsi Tahun 2016” Puskesmas Sebulu II yang terletak di Kecamatan Sebulu merupakan salah satu Puskesmas dengan kategori pedesaan yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Bangunannya yang masih sederhana sebagian besar terbuat dari bahan kayu, namun tidak menyurutkan seluruh karyawan untuk tetap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Rupanya upaya pelayanan yang sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh telah membuahkan hasil dengan diraihnya predikat sebagai Puskesmas Berprestasi Tingkat Kabupaten Tahun 2016. Menurut pemantauan media ini, wajar Puskesmas Sebulu II meraih predikat tersebut oleh karena mampu membuat perbedaan dengan puskesmas lainnya dengan mengembangkan berbagai program unggulan dan menggangas beberapa inovasi. Diantaranya adalah Gerakan Nikah Sehat, Jurnal Resti dan Klinik Remaja. 

 

 

Inovasi “Gerakan Nikah Sehat” 

Puskesmas Sebulu II yang “dinahkodai” oleh Muhamad seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat, dengan kepiawaian dan kesantunannya mampu menggalang semua sumber daya yang ada di Puskesmas untuk merubah jalur nikah biasa menjadi Gerakan Nikah Sehat.

 

Untuk merealisasikan ide Gerakan Nikah Sehat ini, Muhamad bersama seluruh stafnya melakukan konsolidasi untuk kesiapan dan penguatan konsep yang akan diluncurkan. Kemudian melakukan rapat-rapat koordinasi dengan Camat, Seluruh kepala Desa, kepala KUA, BKBP3A dan puskesmas lain yang ada di Kecamatan Sebulu untuk membuat kesepakatan proses dalam Gerakan Nikah Sehat tersebut. Pihak-pihak terkait sangat menyambut baik inovasi program ini dan langsung diluncurkan pada awal tahun 2015. Pada dasarnya Gerakan Nikah Sehat tidak merubah prosedur adminsitrasi calon pengantin yang akan menikah, hanya saja proses yang dilaluinya ditambah kewajiban administratif bagi calon pengantin ke puskesmas untuk pendataan catin, mendapapatkan vaksin TT, pendataan catin  dan konseling persiapan kehamilan sehat serta persalinan yang aman. Setelah itu calon pengantin mendapat kartu keterangan khusus dari puskesmas yang harus dibawa ke kantor KUA sebagai kelengkapan proses selanjutnya. Pihak KUA tidak akan memproses pasangan calon pengantin, sebelum mereka mendapatkan dan menyerahkan surat keterangan khusus tersebut dari puskesmas setempat.

 

Dengan diberlakukannya proses ini, petugas puskesmas mendapatkan banyak manfaat terutama :

1. Mendapatkan data calon ibu hamil dari seluruh wilayah kecamatan.

2. Mendapatkan nomor kontak setiap calon pengantin

3. Memberikan konseling tentang persiapan kehamilan yang sehat dan persalinan yang aman

4. Memberikan brosur atau leaflet serta buku KIA tentang bahaya dan resiko tinggi                       kehamilan

5. Memberikan nomor kontak petugas yang setiap saat bisa dihubungi oleh calon pengantin           dan pasangan pengantin baru apabila mereka ingin konsultasi via telepon.

 

 

Namun bukan itu saja, ia menambahkan bahwa gerakan nikah sehat ini juga diberlakukan bagi calon pengantin yang melalui agama selain Islam dan yang melakukan nikah secara tidak resmi. Pihaknya bekerja sama dengan pendeta gereja, imam kampung dan ketua RT untuk menjaring  pasangan yang baru  menikah namun belum tercatat di Puskesmas.

 

Harapan Muhammad, dengan penerapan Gerakan Nikah Sehat ini, pihaknya dapat memantau  lebih awal seluruh calon pengantin dan calon ibu hamil serta melakukan rencana kunjungan bila didapatkan ibu hamil dengan resiko tinggi. Nah untuk menguatkan Gerakan Nikah Sehat ini, ia juga menggagas  program “Jurnal Resti” untuk memantau ibu hamil dengan resiko tinggi.

 

Inovasi “Jurnal Resti”

Program Jurnal Resti adalah program pemantauan ibu hamil yang mengalami resiko tinggi diwilayah Puskesmas Sebulu II, untuk pemantauannya petugas menggunakan media berupa papan data berisi daftar nama dan informasi lainnya tentang pasien ibu hamil dengan resiko tinggi dan peta wilayah tempat tinggal pasien tersebut. 

 

 

Bagaimana pemantauannya ? Petugas koordinator Jurnal Resti, Bidan Nita, menjelaskan setelah dilakukan pendataan bagi seluruh ibu hamil, kemudian dilakukan screening bumil yang mengalami resiko tinggi. Kriterianya meliputi usia bumil terlalu  muda atau terlalu tua, ukuran pinggul kecil, lingkar lengan atas (Lila) dibawah normal dan sebagainya. 

Data bumil resti yang didapat, dimasukkan dalam papan data dan peta tempat tingggal ibu tersebut. Apabila dalam waktu satu bulan, ibu resti tersebut tidak mengunjungi tempat pelayanan kesehatan maka akan dilakukan kunjungan rumah dan memberikan motivasi kepada sasaran untuk secara rutin melakukan memeriksanakan kehamilan terkait resiko tersebut. Pemantauan akan terus dilakukan sampai ibu hamil tersebut melahirkan dan masa nifas.

“Kami para bidan sangat terbantu dengan program ini,kami bisa memberikan perhatian lebih dan intens kepada para bumil resti” Ungkap Para Petugas Bidan.

 

Selain Gerakan Nikah Sehat dan Jurnal Resti, Puskesmas Sebulu lebih dahulu telah mengembangkan Klinik Remaja yang menjaring sasaran  Remaja dan Dewasa muda yang bermasalah terkait hubungan pacaran, permasalahan dengan orang tuanya dan pemakaian obat-obat psikotropika. Edisi selanjutnya akan membahas  Klinik Remaja Puskesmas Sebulu II.(waa).

 

Simpan sebagai :

Berita terkait :