Responsive image
Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara | Mohon maaf, website masih dalam tahap pengembangan | Better Information - Better Decision - Better Health

KUKAR BUKAN ENDEMIK FILARIASIS

Selasa, 8 Nopember 2016

“Hasil Survai Terakhir Hanya Ditemukan Tiga Kasus Kaki Gajah atau 0,6 persen” 

Kadinkes Kukar

TENGGARONG- Kutai Kartanegara memastikan, bahwa daerah ini bukan termasuk wilayah Endemik penyakit Kaki Gajah atau Filariasis, sebagai mana klaim Kemenkes RI dari hasil Survey 2005  yang menemukan kasus sebesar 26 persen dari total sampel yang disurvey. Bantahan ini dinyatakan oleh Kadinkes Kukar setelah pihaknya melakukan survai ulang beberapa waktu lalu yang hanya ditemukan tiga kasus penderita Kaki Gajah atau 0,6 persen. 

“Kukar bukan wilayah Endemik Filariasis, sebagaimana hasil temuan Kemenkes 2005, berdasarkan survey yang kami lakukan Oktober lalu, masih dibawah 1 persen dari total sampel, hanya 0,6 persen atau hanya ditemukan tiga kasus saja. Survey dilakukan di 30 lokasi se-Kukar, “ kata Kadinkes Kukar drg Koentijo Wibdarminto, melalui Plh Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyegatan Lingkungan(P2PL) Triatmo, beberapa hari yang lalu diruang kerjanya.

 

Dia menambahkan, karena kasus yang ditemukan hanya 0,6 persen saja, maka Dinkes Kukar tidak perlu mengambil kebijakan pengobatan secara massal. Tiga penderita penyakit Kaki Gajah ditemukan di tiga kecamatan, Anggana, Kahala dan Kembang Janggut. 

 

Pemberian obat bagi penderita penyakit Filariasis cukup diminum sekali setahun, dengan jangka waktu lima tahun. Obat Kaki Gajah tidak dijual secara umum, namun disediakan pemerintah,  karena bagian dari program khusus pemerintah kepada masyarakat.

 

“Bagi penderita Kaki Gajah, hanya meminum obat DEC dan Albendazole yang disediakan oleh pemerintah melalui Puskesmas terdekat.  Biasanya setelah pasien minum obat kaki gajah, timbul rasa nyeri atau pusing namun dapat diatasi dengan minum Paracetamol. Penderita dianjurkan hanya minum obat setahun sekali, misal 1 November tahun ini minum obat, maka 1 November tahun depan harus minum obat lagi, rutin sampai lima tahun, “ jelas Triatmo.

 

Untuk mengenali penyakit Kaki Gajah, Triatmo menjelaskan, bahwa Kaki Gajah disebabkan oleh Cacing Filaria yang ditularkan melalui nyamuk. Jika masyarakat mengidap penyakit ini, dapat menyebabkan kecacatan menetap, stigma sosial, hambatan Fisiologis dan kerugian ekonomi, sehingga dipastikan dapat menurunkan kualitas SDM.

 

Solusi Jangka panjang, dengan melakukan pengobatan secara teratur, membiasakan Hidup bersih dan sehat bagi masyarakat, dan kerjasama lintas program dan sektor untuk penanggulangan kasus ini, maka diyakini Filariasis dapat dieliminasi.

 

“Jika melihat penderita kaki gajah, bagian organ tubuhnya biasanya kaki menjadi besar, itu merupakan Cacing Filaria yang semakin berkembang karena tidak diobati, jika pasien meminum obat, maka Cacing Filaria didalam tubuh akan mati secara perlahan“ jelasnya.(Rian/Wa)

Simpan sebagai :

Berita terkait :

   KATEGORI       

Link Aplikasi

Link Terkait

STATISTIK

Online: 7
Hari ini: 18
Total: 11401