Responsive image
Selamat Datang di Website Dinas Kesehatan Kab. Kutai Kartanegara | Mohon maaf, website masih dalam tahap pengembangan | Better Information - Better Decision - Better Health

LIPUTAN PROGRAM UNGGULAN : GPIH DI PUSKESMAS RAPAKMAHANG

Kamis, 6 Juli 2017

“Alhamdulillah Penerapan Sampai Tahun Ketiga, Belum Ada Kematian Ibu Dan Bayi Di Dua Desa Tersebut” Ungkap Eko Kapusk Rapak Mahang

 

KUKAR : Kematian ibu dan bayi masih membayangi setiap Puskesmas di Kukar, termasuk di Puskesmas Rapak Mahang yang tahun lalu terjadi dua kematian ibu melahirkan. Tidak mau kejadian terulang lagi Puskesmas Rapak Mahang membangun Koordinasi dan Kerjasama Lintas Sektor serta melibatkan masyarakat dalam Gerakan Peduli Ibu Hamil atau disingkat dengan GPIH. “Dengan GPIH diharapkan sektor terkait mengoptimalkan perannya masing-masing, bersama petugas kesehatan melakukan identifikasi sasaran, pemantauan kondisi dan pemberian pelayanan kesehatan “Ujar Eko M, Kapusk Rapak Mahang saat ditemui dikantornya (13/6).

Eko menjelaskan bahwa, GPIH adalah salah satu program inovasi yang berupaya membangun kepedulian lintas sektor yang dinamakan dengan Forum Koordinasi Kecamatan Peduli Ibu Hamil. Forum ini menyepakati Tugasnya untuk melakukan identifikasi dan pemantauan bumil serta membantu permasalahan terkait budaya, keyakinan dan ekonomi setiap ibu hamil yang berada diwilayah Puskesmas.

Meskipun sudah dijalankan mulai Tahun 2015 , namun GPIH masih difokuskan untuk dua desa dari delapan desa yang ada diwilayah Puskesmas Rapak Mahang. Dua desa tersebut adalah  Desa Jahab dan Bukit Biru .Dasar pertimbangan pelaksanaan GPIH di dua desa tersebut secara kelembagaan sudah siap menerima program baru. “Saat ini, kami baru menerapkan GPIH di dua desa dari delapan desa di Puskesmas Rapak Mahang, bila penerapan program ini berdampak baik untuk cakupan pelayanan bumil, maka akan dikembangkan di desa atau kelurahan yang lainnya” Terang Eko M.

Ia melanjutkan  mekanisme utama dalam GPIH ini adalah melibatkan peran masyarakat dan lintas  sektor, apabila masyarakat yang mengetahui ada ibu hamil dilingkungannya diminta untuk melapor kepada kader kesehatan RT atau petugas pusban, selanjutnya petugas Pusban akan melakukan kunjungan rumah untuk mendeteksi dini kehamilan dan faktor resikonya. Kemudian bersama kader dan ketua RT memasang Bendera Ibu hamil dan stiker P4K.

 

Masing-masing Desa sudah menyediakan tempat untuk kegiatan Pondok Sayang Ibu yang berfungsi sebagai pusat kegiatan kelas ibu hamil, pembinaan kader kesehatan dan pembinaan dukun bayi. “Pondok sayang ibu sebagai pusat kegiatan GPIH, sehingga semua bumil terlaporkan, terpantau  oleh kader dan terlayani kesehatannya oleh petugas kesehatan” Ungkap Eko.

Eko melanjutkan, data bumil yang dilaporkan oleh kader kesehatan desa dihimpun oleh bidan di Pusban kemudian dibuat peta yang selanjutnya dikirim ke Puskesmas induk untuk dibuatkan peta mapping ibu dengan fakor resiko maupun ibu dengan resiko tinggi. “Setiap didapatkan ibu dengan resiko tinggi, maka petugas kesehatan setempat harus selalu memantau dan memberikan pelayanan sewaktu-waktu diperlukan terhadap resiko yang terjadi tersebut, termasuk segera melakukan rujukan ke Rumah Sakit” Tegasnya.

 

Dari hasil evaluasi penerapan program unggulan GPIH selama dua tahun belum ada kematian ibu dan bayi disana. “Alhamdulillah sampai saat ini, kematian ibu melahirkan dan bayi masih belum ada di dua desa tersebut” Ungkap Eko.

 

Meskipun demikian ia berharap kondisi seperti ini tetap bisa dipertahankan dan berharap semua semua desa atau kelurahan diwilayahnya menerapkan GPIH ini sehingga kejadian kematian ibu melahirkan dan bayi dapat dihindarkan serta penanganan rujukan bisa dilakukan oleh rumah sakit lebih optimal, ujar Eko mengakhiri wawancara ini.  

Simpan sebagai :

Berita terkait :

   KATEGORI       

Link Aplikasi

Link Terkait

STATISTIK

Online: 11
Hari ini: 21
Total: 11404